Suara yang Tak Pernah Padam

Puisi ini mengekspresikan perjuangan para Guru Pendidikan Agama Islam untuk mendapatkan hak mereka.   


Di ruang sunyi tempat ilmu ditanam,
Ada suara lirih yang tak pernah padam,
Bukan oleh lelah, bukan karena kalah,
Melainkan karena cinta pada amanah.
 
Di bawah langit yang senyap dan kelabu,
Hujan mengguyur atap ilmu,
Sementara hati yang tulus mengajar
Tergores sunyi oleh janji yang buyar.
 
Mereka yang mengabdi bukan demi upah,
Tapi tak layak dibiarkan pasrah,
Tunjangan bukan kemewahan,
Ia hak, bukan pemberian.
 
Terkadang langkah itu terantuk,
Di simpang jalan birokrasi yang rumit,
Dua lembaga saling menunjuk,
Namun yang terluka adalah yang memikul tekad bulat.
 
Mereka mengajar dengan cahaya jiwa,
Menanam iman di dada bangsa,
Namun saat hak ditarik kembali,
Mereka hanya bisa menunduk, tapi tak berhenti.
 
Sungguh, ini bukan tentang harta,
Tapi tentang harga diri profesi mulia,
Tentang keadilan yang seharusnya sama,
Bagi semua yang berdiri untuk cahaya.
 
Mereka bersabar, ya,
Tapi tak berarti harus diam selamanya,
Karena diam bukan satu-satunya cara
Untuk menjaga nurani agar tetap menyala.
 
Wahai pemangku kebijakan negeri,
Dengarkan suara dari ruang-ruang kelas ini,
Bukan untuk mengemis simpati,
Tapi menuntut kejelasan yang hakiki.
 
Jika engkau percaya pada pendidikan,
Maka muliakanlah para pengabdi harapan,
Jangan biarkan mereka tertatih sendirian
Saat mereka sedang menegakkan masa depan.
 
Bukan hujan yang akan menghentikan langkah,
Bukan kabar pilu yang akan memadamkan bara,
Selama ada anak bangsa yang butuh bimbingan,
Akan ada guru yang berdiri dengan iman.
 
Berikan hak, pulihkan martabat,
Karena mendidik bukan sekadar tugas,
Ia adalah laku suci yang tak boleh retak
Oleh sistem yang lamban dan tak tegas.
 
Dan selagi masih ada langit dan bumi,
Suara mereka akan terus bernyanyi,
Menyuarakan harapan dalam hening pagi—
Bahwa keadilan itu…
pasti akan kembali.

Posting Komentar

0 Komentar