![]() |
Inspirasi cerita pendek ini ditulis berdasarkan apa yang dialami dan dirasakan langsung oleh penulisnya. |
[Jombang,
Pak Guru NINE] - Hujan
deras mengguyur atap sekolah di suatu sore bulan Ramadhan. Di dalam kelas yang
mulai sepi, Pak Hasan, seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI), duduk
termenung di kursinya. Pikirannya kalut, bukan hanya karena hujan yang membuat
halaman sekolah becek, tetapi juga karena kabar yang baru saja ia terima
melalui grup WhatsApp para guru PAI di daerahnya.
"Ass wr wb... Mohon mohon maaf Bpk ibu
GPAI.... Kami mohon kerjasamanya. Ini terdapat kesalahan teknis pembayaran TPG
THR, mohon bapak ibu tidak mengambil uang TPG THR tersebut. Karena harus
dikembalikan ke kas negara. Karena Kemenag tidak mempunyai kewenangan untuk
membayarkannya. Mohon untuk disampaikan ke seluruh GPAI. Matur suwun."
Pak Hasan membaca pesan itu berulang kali. Ia baru
saja mentransfer uang yang diterimanya untuk melunasi utangnya di koperasi
sekolah. Uang itu seharusnya adalah haknya—tunjangan hari raya yang sudah lama
dinanti. Tapi sekarang, ia dan rekan-rekannya diminta untuk mengembalikannya.
Sebagai seorang ASN, ia jarang mengeluh soal gaji
dan tunjangan. Baginya, pengabdian sebagai pendidik jauh lebih penting daripada
materi. Namun, jika ia diperlakukan berbeda dari guru lain hanya karena status
kepegawaiannya yang masih "abu-abu", bukankah itu ketidakadilan?
Pemerintah Daerah mengangkatnya, tetapi Kementerian Agama yang membina dan
menentukan tunjangannya. Saat ada hak yang seharusnya ia terima, kedua pihak
justru saling melempar tanggung jawab.
***
Malam itu, di rumah sederhana Pak Hasan, istrinya,
Bu Siti, sedang menyiapkan hidangan sahur. Meskipun kesederhanaan selalu
menyelimuti meja makan mereka, Bu Siti selalu berusaha menyajikan makanan
terbaik untuk keluarga kecilnya.
"Mas, kamu kelihatan murung sejak pulang
tadi. Ada apa?" tanya Bu Siti sambil menuangkan teh hangat.
Pak Hasan menghela napas panjang. "Tadi siang
ada transferan masuk ke rekening. Aku pikir itu tunjangan hari raya yang
akhirnya cair. Aku langsung lunasi hutang di koperasi. Tapi barusan, ada kabar
kalau uang itu salah transfer dan harus dikembalikan."
Bu Siti terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Kalau memang harus dikembalikan, ya dikembalikan saja, Mas. Yang penting
kita masih bisa makan dan menjalani Ramadhan ini dengan hati tenang."
"Aku ikhlas, Bu. Tapi aku juga kecewa. Kenapa
selalu guru PAI yang diperlakukan berbeda? Kenapa nasib kita selalu
terombang-ambing antara dua instansi? Kalau memang kami dianggap bagian dari
Pemerintah Daerah, kenapa tunjangan kami tidak langsung dianggarkan dari APBD?
Kalau dianggap bagian dari Kemenag, kenapa hak kami tidak dipenuhi?"
Bu Siti menggenggam tangan suaminya. "Mas,
kamu selalu mengajarkan murid-murid untuk bersabar dan memperjuangkan
kebenaran. Ini ujian untukmu juga. Kita harus tetap bersyukur, tapi kita juga
punya hak untuk menyuarakan keadilan."
Pak Hasan mengangguk. Kata-kata istrinya seolah
menjadi pengingat bahwa perjuangan harus dilakukan dengan hati yang lapang.
***
Keesokan harinya, di ruang guru, para guru PAI
berkumpul. Mereka semua membicarakan perihal uang yang salah transfer itu.
"Pak Hasan, gimana menurut sampean? Kita
harus kembalikan uang itu, kan?" tanya Pak Ridwan, guru PAI senior yang
dikenal bijaksana.
"Iya, Pak. Saya sudah putuskan untuk
mengembalikannya. Tapi bukan berarti kita harus diam saja. Kita harus bersuara.
Ini bukan tentang uang semata, tapi tentang penghargaan terhadap profesi
kita," jawab Pak Hasan.
Bu Lestari, seorang guru PAI muda, menimpali,
"Saya setuju, Pak. Tahun lalu juga kita tidak menerima gaji ke-13 dan
tunjangan hari raya, padahal ASN lain mendapatkannya. Harus ada kejelasan
tentang status kita."
Pak Hasan mengangguk. "DPP AGPAII sudah
mengadukan ini ke Kemenag dan Kemenkeu. Kita harus terus mendukung perjuangan
mereka. Kalau tidak, diskriminasi ini akan terus berlanjut."
Mereka sepakat untuk menyuarakan aspirasi mereka
melalui AGPAII dan berharap pemerintah segera memberikan solusi.
***
Malam itu, Pak Hasan kembali termenung di depan
jendela rumahnya. Hujan masih turun, deras seperti kemarin. Tapi kali ini, ia
merasa lebih tenang. Ia tahu perjuangannya belum selesai, tetapi ia juga yakin
bahwa keadilan akan datang bagi mereka yang bersabar dan terus berjuang.
Dalam
kesunyian malam, ia berdoa, "Ya Allah, berikanlah kekuatan bagi kami, para
guru PAI, agar kami tetap istiqamah dalam mendidik generasi bangsa. Semoga keadilan berpihak kepada
kami. Aamiin."
Di luar, suara azan subuh berkumandang. Waktu sahur telah usai, dan hari baru telah dimulai. Perjuangan ini masih panjang, tapi Pak Hasan yakin, selama ia tetap mengajar dengan hati, ia telah melakukan bagian terbaik dalam hidupnya.[pgn]
3 Komentar
Subhanallah luar biasa
BalasHapusSubhanallah...luar biasa..semoga kami guru PAI diberi kesabaran
BalasHapusMotto kemenag " Ikhlas Beramal" apakah ini yang disalah artikan dari pihak2 pemangku kebijakan. Sehingga serasa kita di anak tirikan. Semoga Allah memberi kemurahan dan keberkahan. Aamiin.
BalasHapus