![]() |
Waktu pelaksanaan shalat Idul Fitri ini mengikuti ketetapan resmi 1 Syawal 1446 H dari Pemerintah Republik Indonesia. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Menjelang Ramadhan 1446 H/2025
M, saya mendapat amanah yang tak terduga. Gus Didin, salah satu pengurus Takmir
Masjid Al-Firdaus Perum Firdaus Regency Sengon Jombang, meminta saya menjadi
imam dan khatib shalat Idul Fitri 1 Syawal. "Saya gak bisa, sebab saya
akan menjadi imam dan khatib di Kesamben," ujarnya. Karena jadwal saya
masih kosong, saya pun menyanggupi permintaan tersebut.
Gus
Didin menjelaskan, "Tempat pelaksanaannya di dalam masjid. Tapi karena
jamaahnya banyak, nanti pasti akan meluber ke halaman depan masjid. Jam 6 pagi
kita mulai shalat Idul Fitri." Saya lalu bertanya lebih lanjut tentang
tradisi khutbah di masjid ini — satu atau dua kali khutbah — agar saya bisa
menyesuaikan diri dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan di tengah jamaah.
Saya
sudah cukup akrab dengan pengurus dan jamaah Masjid Al-Firdaus. Setiap Jumat
Kliwon, saya memang bertugas menjadi imam dan khatib shalat Jumat di sana.
Beberapa murid saya di SMAN 2 Jombang juga tinggal di sekitar perumahan itu, sehingga sering bertemu saya saat shalat Jumat di
masjid ini.
Namun, ini adalah kali pertama saya bertugas sebagai imam dan khatib shalat
Idul Fitri di masjid tersebut. Tahun lalu, saya bertugas di salah satu masjid
di Kecamatan Ploso.
Di
tengah persiapan, istri saya mengingatkan, "Kok tidak menyusun teks
khutbah?" Saya menjawab enteng, "Gampang. Nanti saja!". Padahal,
di awal Ramadhan saya sudah menulis esai tentang makna Idul Fitri. Esai itu
saya tulis sebagai refleksi pribadi atas kesalahpahaman masyarakat dalam
memaknai Idul Fitri. Akhirnya, saya memutuskan menjadikan esai tersebut sebagai
naskah khutbah saya.
Berikut ini adalah pokok-pokok pikiran yang akan saya
sampaikan dalam khutbah Idul Fitri di masjid Al-Firdaus:
1. Meluruskan Makna
Idul Fitri
Banyak masyarakat salah memahami arti "Idul Fitri." Kata "Ied" sebenarnya berarti "hari raya," bukan "kembali." Kesalahpahaman ini muncul karena kemiripan dengan kata Arab lain yang berarti "kembali." Sementara itu, "fitri" berasal dari "fithr" yang berarti berbuka atau makan, sehingga makna yang lebih tepat adalah "Hari Raya Makan."
2. Kaitan Idul Fitri
dengan Zakat Fitri
Idul Fitri ditandai dengan larangan berpuasa dan anjuran makan sebelum shalat. Zakat fitri yang diwajibkan sebelum shalat juga bertujuan memastikan semua orang bisa menikmati hidangan, menekankan bahwa perayaan ini bukan hanya untuk individu, tapi juga untuk kebahagiaan bersama.
3. Makan sebagai Simbol
Syukur dan Sunnah Rasul
Makan saat Idul Fitri bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari sunnah. Rasulullah SAW mencontohkan makan beberapa butir kurma sebelum shalat Idul Fitri. Ayat Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menikmati rezeki dengan tidak berlebihan.
4. Idul Fitri sebagai
Perayaan Kepedulian Sosial
Lebih dari sekadar makan, Idul Fitri menekankan kepedulian sosial. Zakat fitri menjadi wujud berbagi kebahagiaan agar semua orang merasakan kemenangan. Perayaan ini juga mendorong silaturahmi, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan antarsesama.
5. Makna "Hari Raya
Makan" yang Lebih Dalam
Menyebut
Idul Fitri sebagai "Hari Raya Makan" bukanlah penyederhanaan,
melainkan pengembalian pada makna aslinya. Islam mengajarkan keseimbangan:
menahan diri selama Ramadhan dan menikmati rezeki di hari raya. Idul Fitri
menjadi momen bersyukur, berbagi, dan merayakan kebersamaan dengan penuh
kesadaran.
Dengan memahami Idul Fitri sebagai "Hari Raya
Makan" yang sarat makna, kita diajak untuk tidak hanya merayakannya dengan
hidangan lezat, tetapi juga dengan hati yang penuh syukur, kepedulian, dan
semangat kebersamaan. Idul Fitri menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati
bukanlah milik pribadi, melainkan kebahagiaan yang dirasakan bersama — saat tak
ada lagi yang kelaparan, saat silaturahmi terjalin erat, dan saat kita kembali
pada fitrah kemanusiaan yang penuh kasih sayang. Di balik kesederhanaan istilah
"Hari Raya Makan," tersimpan pelajaran mendalam tentang keseimbangan
hidup, kepedulian sosial, dan rasa syukur yang sejati.[pgn]
0 Komentar