Khidmat Berorganisasi: Inspirasi dari Ashabul Kahfi

 

Dalam forum ini Dr. KH. Syamsul Falah, M.Pd.I terpilih menjadi Ketua Umum DP MUI Kecamatan Gudo masa khidmat 2025-2030.

[Jombang, Pak Guru NINE] - Berorganisasi bukan sekadar tentang struktur kepengurusan atau daftar program kerja yang tersusun rapi di atas kertas. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen, ketekunan, dan kebersamaan. Dalam konteks organisasi keislaman, khidmat atau pengabdian bukanlah jalan yang selalu mudah. Ada pasang surut semangat, ada ujian kesabaran, dan ada momen-momen ketika keikhlasan benar-benar diuji.

Ahad, 23 Maret 2025, di pendopo Kecamatan Gudo, digelar Musyawarah Kecamatan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kecamatan Gudo. Agenda utamanya adalah memilih pengurus baru untuk masa khidmat 2025-2030. Sebagai salah satu sekretaris, saya mendapat tugas turut menghadiri acara ini  untuk merekamnya menjadi informasi yang layak ditampakkan kepada publik. Sebelum sesi musyawarah dimulai, Ketua Umum DP MUI Kabupaten Jombang, Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc. MA. memberikan arahan dan motivasi yang menggugah, mengambil inspirasi dari kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam Al-Quran.

Pelajaran dari Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda mukmin yang menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan iman mereka. Di tengah tirani Raja Dikyanus yang dhalim, mereka memilih untuk menyelamatkan keimanan dengan bersembunyi di dalam gua. Namun, kisah mereka bukan sekadar cerita tentang pelarian, melainkan pelajaran tentang keberanian, persatuan, dan strategi dalam menghadapi tantangan. Kisah ini memberi banyak inspirasi bagi kita yang tengah berjuang dalam organisasi keislaman.

1. Kekuatan Iman dan Ikatan Emosional

Ashabul Kahfi terdiri dari tujuh pemuda yang memiliki kesamaan dalam keyakinan. Mereka bukan hanya sekadar teman seperjalanan, tetapi saudara seiman yang saling menguatkan. Dalam organisasi keislaman seperti MUI, fondasi utama yang harus dibangun adalah keimanan dan ukhuwah Islamiyah. Tanpa ikatan emosional dan kesatuan visi dalam berkhidmat, organisasi akan rapuh dan mudah goyah.

Al-Quran menegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 200:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Kesabaran dalam berorganisasi adalah ujian tersendiri. Ada dinamika yang tak selalu menyenangkan. Namun, dengan saling menguatkan, kita bisa tetap bertahan dalam jalur perjuangan.

2. Bekerja Sebelum Bicara

Ashabul Kahfi tidak banyak berdebat atau berbicara panjang lebar. Mereka langsung bertindak dengan mencari solusi terbaik bagi keimanan mereka. Dalam QS. Al-Kahfi ayat 14, Allah berfirman:

"Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia.’”

Pelajaran ini sangat relevan dalam dunia organisasi. Terlalu banyak diskusi tanpa aksi nyata justru bisa menjadi penghambat. Dalam berkhidmat di MUI, yang utama bukanlah sekadar berwacana, tetapi bagaimana kita benar-benar bergerak dan bekerja untuk kepentingan umat. Kritik dan komentar tanpa tindakan sering kali menjadi batu sandungan. Sebaliknya, kerja nyata akan berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.

3. Menyamakan Visi dan Misi

Ashabul Kahfi memiliki satu keyakinan yang sama: mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan apa pun. Kesamaan visi inilah yang membuat mereka tetap teguh dan tidak mudah terpecah belah. Dalam organisasi, memiliki visi yang selaras sangatlah penting. Di MUI, visi kita jelas: menegakkan tauhid dan membantu masyarakat dalam beribadah sesuai tuntunan Islam. Dengan menyatukan langkah dan tujuan, kita bisa bergerak lebih efektif dan bermanfaat.

4. Strategi dan Kerahasiaan dalam Perjuangan

Dalam QS. Al-Kahfi ayat 19, diceritakan bagaimana Ashabul Kahfi mengutus salah satu dari mereka untuk mencari makanan dengan penuh kehati-hatian. Mereka tidak ingin keberadaan mereka diketahui karena bisa berakibat fatal.

“Maka, utuslah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. Hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, lalu membawa sebagian makanan itu untukmu. Hendaklah pula dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali memberitahukan keadaanmu kepada siapa pun.”

Pelajaran dari ayat ini adalah pentingnya strategi dalam perjuangan. Tidak semua rencana harus diumbar sejak awal. Dalam organisasi, ada program-program strategis yang perlu dirahasiakan hingga saat yang tepat. Terlalu cepat mengumbar rencana bisa berisiko mengundang gangguan dari pihak yang tidak sejalan. Ini bukan berarti kita harus selalu tertutup, tetapi ada kebijakan dalam memilih mana yang perlu disampaikan dan mana yang perlu dijaga dulu.

Mengambil Ibrah untuk Berkhidmat di MUI

Sebagai bagian dari MUI, berkhidmat bukanlah tentang mencari keuntungan pribadi. Tidak ada imbalan materi yang besar, tidak ada sorotan kemewahan. Semuanya dilakukan karena panggilan hati untuk menjaga umat. Namun, jalan ini bukan tanpa rintangan. Ada saatnya kita merasa lelah, ingin menyerah, atau merasa tidak dihargai.

Di saat seperti itu, kita harus mengingat bahwa berorganisasi dalam jalan Islam adalah sebuah ladang pahala. Jika Ashabul Kahfi berjuang mempertahankan iman mereka di bawah tekanan tirani, maka kita pun harus siap menghadapi tantangan dalam berdakwah dan membimbing umat.

Kesabaran adalah kunci. Dukungan dari sesama pengurus adalah penguat. Seperti Ashabul Kahfi yang tetap bersatu dalam perjalanan panjang mereka, begitu pula kita dalam berorganisasi. Saling menguatkan, saling mendukung, dan selalu mengingat tujuan utama: mencari ridha Allah SWT.

Penutup

Musyawarah di pendopo Kecamatan Gudo bukan hanya ajang pergantian kepengurusan, tetapi juga momen untuk meneguhkan kembali semangat khidmat. Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa dalam organisasi keislaman, iman harus menjadi fondasi, kerja nyata lebih utama daripada banyak bicara, visi dan misi harus selaras, serta strategi perjuangan harus dirancang dengan matang.

Berkhidmat di MUI bukanlah sekadar tugas administratif, tetapi bagian dari jihad fi sabilillah. Jika kita mampu meneladani spirit Ashabul Kahfi, insyaAllah organisasi ini akan terus menjadi cahaya bagi umat, menghadirkan manfaat yang nyata, dan tetap berada di jalur yang diridhai oleh Allah SWT. [pgn]

Posting Komentar

0 Komentar