"Selamat Hari Lebaran": Dari Kritik Sosial ke Vibes Islami

Ismail Marzuki adalah pencipta lagu Selamat Hari Lebaran yang sangat populer saat Idul Fitri. 

 

[Jombang, Pak Guru NINE] - Setiap tahun, saat gema takbir berkumandang dan kebahagiaan menyelimuti umat Muslim, ada satu lagu yang hampir selalu mengiringi momen kemenangan ini: "Selamat Hari Lebaran". Lagu ciptaan Ismail Marzuki ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di Indonesia. Namun, tahukah kita bahwa versi asli lagu ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan Idul Fitri?

"Selamat Hari Lebaran" bukan hanya sekadar lagu perayaan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif bangsa, mengisi ruang-ruang publik setiap kali bulan Syawal tiba. Namun, seiring berjalannya waktu, lagu ini mengalami berbagai perubahan, baik dalam aransemen maupun liriknya. Salah satu versi yang cukup dikenal adalah yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa, dengan sentuhan baru yang lebih menonjolkan nuansa Islami dan kemeriahan Idul Fitri. Menariknya, dalam versi baru ini, tidak semua lirik asli dipertahankan. Beberapa bait dihilangkan atau digubah agar lebih selaras dengan kesan suci Lebaran. Hal ini tentu mengundang pertanyaan: Mengapa ada perubahan dalam lirik? Apa yang membuat versi baru ini lebih diterima oleh masyarakat modern?

Beberapa tahun lalu, saya menemukan video di YouTube yang menampilkan "Selamat Hari Lebaran" dalam versi aslinya. Video tersebut menggambarkan suasana tahun 1950-an, lengkap dengan lirik yang ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan dengan versi yang sering kita dengar sekarang. Berikut adalah lirik aslinya:

---

Selamat Hari Lebaran 
 
Setelah berpuasa satu bulan lamanya 
Berzakat fitrah menurut perintah agama 
Kini kita beridul fitri berbahagia 
Mari kita berlebaran bersuka gembira 
 
Berjabat tangan sambil bermaaf-maafan 
Hilang dendam habis marah di hari lebaran 
 
Minal aidin wal faizin 
Maafkan lahir dan batin 
Selamat para pemimpin 
Rakyatnya makmur terjamin 
 
Dari segala penjuru mengalir ke kota 
Rakyat desa berpakaian baru serba indah 
Setahun sekali naik trem listrik perey 
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore 
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe 
Kakinya pada lecet babak belur berabe 
 
Maafkan lahir dan batin 
Lang tahun hidup prihatin 
Cari uang jangan bingungin 
Lain Syawal kita ngawinin 
 
Cara orang kota berlebaran lain lagi 
Kesempatan ini dipakai buat berjudi 
Sehari semalam main ceki mabuk brandi 
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri 
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate 
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri 
 
Maafkan lahir dan batin 
Lang taon hidup prihatin 
Kondangan boleh kurangin 
Korupsi jangan kerjain 

---

 

Setelah membaca dan mendengarkan lirik aslinya, saya menyadari bahwa lagu ini bukan hanya lagu perayaan Lebaran, melainkan juga berisi kritik sosial yang cukup tajam. Ismail Marzuki tidak sekadar menciptakan lagu untuk menyemarakkan suasana, tetapi juga menggambarkan realitas masyarakat pada zamannya. Bait-bait yang menyinggung perjudian, mabuk-mabukan, hingga kekerasan dalam rumah tangga memberikan gambaran bahwa tidak semua orang memaknai Lebaran dengan cara yang benar. Ada yang justru menggunakan momen ini untuk hal-hal negatif, seperti berjudi dan menghambur-hamburkan uang. Bahkan, ada sindiran terhadap praktik korupsi yang masih relevan hingga kini.

Namun, kritik sosial yang eksplisit dalam lirik ini bisa jadi dianggap terlalu vulgar untuk dipertahankan dalam versi modern. Oleh karena itu, dalam aransemen ulang, bagian-bagian yang menampilkan realitas pahit ini dihapus atau diganti dengan lirik yang lebih mencerminkan kebahagiaan dan kemenangan dalam Islam. Salah satu versi paling terkenal dari aransemen ulang lagu ini adalah "Idul Fitri" yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa. Lagu ini tetap mempertahankan semangat Lebaran, tetapi dengan pendekatan yang lebih modern dan nuansa Islami yang lebih kuat. Nada vokal Gita yang tinggi, ditambah dengan sentuhan instrumen bernuansa Timur Tengah, membuat lagu ini terdengar lebih megah dan penuh suka cita. Jika dibandingkan dengan versi asli, terasa jelas bahwa versi ini lebih menekankan aspek religius dan kebahagiaan Idul Fitri. Lirik-lirik yang bersifat kritik sosial dihilangkan, dan lagu lebih fokus pada semangat syukur serta silaturahmi.

Pada akhirnya, lagu "Selamat Hari Lebaran" mengalami transformasi yang menarik. Versi aslinya adalah sebuah karya seni yang tidak hanya mengajak kita merayakan Lebaran, tetapi juga mengingatkan akan realitas sosial yang terjadi di sekeliling kita. Namun, dalam versi modernnya, lagu ini lebih diarahkan untuk menciptakan atmosfer Islami yang lebih murni dan penuh kebahagiaan. Mana yang lebih baik? Tentu itu tergantung dari sudut pandang masing-masing. Versi asli memiliki nilai historis dan kritik sosial yang kuat, sementara versi aransemen ulang lebih sesuai dengan nuansa perayaan Idul Fitri yang damai dan menyenangkan. Bagaimanapun juga, baik dalam bentuk kritik sosial maupun dalam bentuk perayaan penuh suka cita, "Selamat Hari Lebaran" tetap menjadi salah satu lagu yang akan selalu dikenang dan dinyanyikan saat Idul Fitri tiba.[pgn]


Hari Lebaran - Ismail Marzuki

Idul Fitri - Gita Gutawa

Posting Komentar

0 Komentar